Keluarga Sebagai Tolak Ukur
Kepribadian Anak
Sebelumnya,
pernahkah anda melihat seorang anak yang memiliki sopan santun tinggi, selalu
menghormati orang yang lebih tua, dan bisa menempatkan diri dimanapun ia
berada? Atau, pernahkah anda menemui seorang anak laki-laki muda yang tingkah
laku dan perkataannya kasar dan tidak memiliki sopan santun?
Pernahkah anda berfikir darimana mereka mendapatkan sikap dan kebiasaan seperti yang telah saya sebutkan?
Pernahkah anda berfikir darimana mereka mendapatkan sikap dan kebiasaan seperti yang telah saya sebutkan?
Seperti
yang telah kita ketahui, lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan
kepribadian seorang manusia. Lingkungan keluarga adalah elemen terkecil
masyarakat yang mempunyai pengaruh besar dalam masalah akidah, budaya, norma,
emosional, dan sebagainya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan
pembentukan kepribadian anak sejak dini.
Dengan kata lain, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Faktor genetik dan lingkungan tidak bisa berdiri sendiri, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam pembentukan kepribadian seseorang.
Dengan kata lain, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Faktor genetik dan lingkungan tidak bisa berdiri sendiri, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam pembentukan kepribadian seseorang.
Bagaimana
maksudnya? Seorang anak, jelas, terlahir dari seorang ibu. Dalam ilmu biologi,
pewarisan gen telah kita pelajari. Sifat ibu dan ayah kemungkinan besar akan
bercampur menjadi satu dan beberapa diantaranya akan melekat pada sang anak.
Selanjutnya, mas-masa balita adalah fase tercepat dalam perkembangan anak. Padahal, pada fase ini, anak belum mengenal individu lain selain lingkungan rumahnya, yakni keluarga.
Keluarga yang baik dan harmonis akan mengajarkan hal baik pada sang anak, meskipun pada hal kecil seperti makan menggunakan tangan kanan, berkata dengan sopan, dan tidak berlari-lari di dalam rumah. Hal yang cukup sederhana, bukan?
Namun, justru hal semacam inilah yang akan melekat di dalam diri sang anak hingga ia dewasa nanti. Lain halnya apabila sang anak tumbuh diantara keluarga yang kurang memperhatikan perkembangannya. Saat ia tumbuh dewasa, ia cenderung untuk bertindak sesukanya.
Selanjutnya, mas-masa balita adalah fase tercepat dalam perkembangan anak. Padahal, pada fase ini, anak belum mengenal individu lain selain lingkungan rumahnya, yakni keluarga.
Keluarga yang baik dan harmonis akan mengajarkan hal baik pada sang anak, meskipun pada hal kecil seperti makan menggunakan tangan kanan, berkata dengan sopan, dan tidak berlari-lari di dalam rumah. Hal yang cukup sederhana, bukan?
Namun, justru hal semacam inilah yang akan melekat di dalam diri sang anak hingga ia dewasa nanti. Lain halnya apabila sang anak tumbuh diantara keluarga yang kurang memperhatikan perkembangannya. Saat ia tumbuh dewasa, ia cenderung untuk bertindak sesukanya.
Dalam
ilmu sosiologi, terdapat beberapa fungsi keluarga yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan anak yang saya singkat APPARET, yakni:
1.
Afektif
2.
Protektif
3.
Pendidikan
4.
Agama
5.
Rekreatif
6.
Ekonomi
7.
Turunan
Fungsi afektif adalah fungsi yang menjelaskan keluarga
sebagai salah satu tempat untuk mencurahkan kasih sayang dan kepedulian. Fungsi
protektif adalah fungsi dimana keluarga merupakan tempat untuk mencari keamanan
dan perlindungan dari ancaman lingkungan luar. Fungsi pendidikan menjelaskan
keluarga sebagai tempat pertama dalam mendidik seorang anak sebelum sang anak
mendapat pengaruh negatif dari luar.
Keempat fungsi yang lain pun menerangkan hal yang sama bahw keluarga adalah aspek utama dalam pembelajaran agama, rekreasi serta sebagai sarana kemandirian ekonomi saat anak tumbuh dewasa.
Keempat fungsi yang lain pun menerangkan hal yang sama bahw keluarga adalah aspek utama dalam pembelajaran agama, rekreasi serta sebagai sarana kemandirian ekonomi saat anak tumbuh dewasa.
Dari penjelasan tersebut dapat terlihat bahwa kepribadian
anak sangat tergantung kepada bagaimana keluarganya memperlakukan dan
menganggap mereka. Mulai saat ini, cobalah amati lingkungan kita dan temukanlah
karakteristik masing-masing individu yang kita temui. Ada sebuah puisi indah
karya Dorothy Law Nolte tentang kepribadian anak yng berjudul “Children
learn what they live” atau Anak Belajar dari lingkungannya. Isinya
diantaranya adalah:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar
berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia akan belajar
menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar
percaya dari
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta, ia akan
belajar menemukan persahabatan dalm hidupnya.
Jadi, sudahkah anda mengerti bagaimana nantinya harus
mengajarkan sesuatu kepada anak?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar